Pendidikan Budaya Sastra Jawa
A
Minggu, 10 November 2013
Sejarah Reog Ponorogo
Jathil
Minggu, 13 Oktober 2013
Wawan Rembug
Diskusi yaiku wawan rembug karo sakelompok kanggo ngrembug sawijining
masalah. Supaya diskusi kasil selaras karo tujuwane, kabeh anggota
kelompok kudu melu makarya, mikir lan urun panemu kanggo golek jawaban
kang cocog karo masalah sing dirembung.
Supaya diskusi lancar, kudu ana paraga-paraga kaya ing ngisor iki :
Supaya diskusi lancar, kudu ana paraga-paraga kaya ing ngisor iki :
Minggu, 06 Oktober 2013
Aksara Jawa
Apa itu aksara Jawa?
Aksara Jawa yang dalam hal ini adalah Hanacaraka (dikenal juga dengan
nama Carakan) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau
pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar,
Madura, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.
Bentuk Hanacaraka yang sekarang dipakai sudah tetap sejak masa
Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada
abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan
abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang
paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai
contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan
satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na
yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata
yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”. Dengan demikian,
terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila
dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.
Penulisan Aksara Jawa
Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di
bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun pada pengajaran modern
menuliskannya di atas garis.
Aksara Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang
berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf “utama” (aksara murda, ada yang
tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf
vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa
sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda
baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).
1. Huruf Dasar (Aksara Nglegena)
Aksara Nglegena adalah aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata atau
biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu:
ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga,
ba, tha, nga
2. Huruf Pasangan (Aksara Pasangan)
Aksara pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Misal,
untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan diperlukan pasangan
untuk “se” agar “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s”
tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi).
Berikut daftar Aksara Pasangan:
3. Huruf Utama (Aksara Murda)
Aksara Murda yang digunakan untuk menuliskan awal kalimat dan kata yang
menunjukkan nama diri, gelar, kota, lembaga, dan nama-nama lain yang
kalau dalam Bahasa Indonesia kita gunakan huruf besar.
Berikut Aksara Murda serta Pasangan Murda:
Sampai disini sebetulnya sudah bisa langsung dicoba dan biasanya
dianggap sah-sah saja tanpa tambahan aksara-aksara yang lain (seperti
kutulis di bawah). Karena yang berikutnya rada riweuh juga
mempelajarinya.
4. Huruf Vokal Mandiri (Aksara Swara)
Aksara swara adalah huruf hidup atau vokal utama: A, I, U, E, O dalam
kalimat. Biasanya digunakan pada awal kalimat atau untuk nama dengan
awalan vokal yang mengharuskan penggunakan huruf besar.
5. Huruf vokal tidak mandiri (Sandhangan)
Berbeda dengan Aksara Swara, Sandangan digunakan untuk vokal yang berada
di tengah kata, dibedakan termasuk berdasarkan cara bacanya.
6. Huruf tambahan (Aksara Rekan)
Aksara Rekan adalah huruf yang berasal dari serapan bahasa asing, yaitu:
kh, f, dz, gh, z
7. Tanda Baca (Pratandha)
Dalam penulisan kalimat dalam Aksara Jawa dibutuhkan pula pembubuhan
tanda baca, yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Pokoke mumet dot com
:D
Selain huruf, Aksara Jawa juga punya bilangan (Aksara Wilangan)
Baca Tutorialnya Di: http://dududth.blogspot.com/2012/08/belajar-aksara-jawa-yang-terlupakan.html
Postingan Dari Dududth.blogspot.com Silahkan Kunjungi blog saya
Baca Tutorialnya Di: http://dududth.blogspot.com/2012/08/belajar-aksara-jawa-yang-terlupakan.html
Postingan Dari Dududth.blogspot.com Silahkan Kunjungi blog saya
Apa itu aksara Jawa?
Aksara Jawa yang dalam hal ini adalah Hanacaraka (dikenal juga dengan
nama Carakan) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau
pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar,
Madura, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.
Bentuk Hanacaraka yang sekarang dipakai sudah tetap sejak masa
Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada
abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan
abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang
paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai
contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan
satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na
yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata
yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”. Dengan demikian,
terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila
dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.
Penulisan Aksara Jawa
Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di
bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun pada pengajaran modern
menuliskannya di atas garis.
Aksara Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang
berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf “utama” (aksara murda, ada yang
tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf
vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa
sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda
baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).
1. Huruf Dasar (Aksara Nglegena)
Aksara Nglegena adalah aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata atau
biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu:
ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga,
ba, tha, nga
2. Huruf Pasangan (Aksara Pasangan)
Aksara pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Misal,
untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan diperlukan pasangan
untuk “se” agar “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s”
tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi).
Berikut daftar Aksara Pasangan:
3. Huruf Utama (Aksara Murda)
Aksara Murda yang digunakan untuk menuliskan awal kalimat dan kata yang
menunjukkan nama diri, gelar, kota, lembaga, dan nama-nama lain yang
kalau dalam Bahasa Indonesia kita gunakan huruf besar.
Berikut Aksara Murda serta Pasangan Murda:
Sampai disini sebetulnya sudah bisa langsung dicoba dan biasanya
dianggap sah-sah saja tanpa tambahan aksara-aksara yang lain (seperti
kutulis di bawah). Karena yang berikutnya rada riweuh juga
mempelajarinya.
4. Huruf Vokal Mandiri (Aksara Swara)
Aksara swara adalah huruf hidup atau vokal utama: A, I, U, E, O dalam
kalimat. Biasanya digunakan pada awal kalimat atau untuk nama dengan
awalan vokal yang mengharuskan penggunakan huruf besar.
5. Huruf vokal tidak mandiri (Sandhangan)
Berbeda dengan Aksara Swara, Sandangan digunakan untuk vokal yang berada
di tengah kata, dibedakan termasuk berdasarkan cara bacanya.
6. Huruf tambahan (Aksara Rekan)
Aksara Rekan adalah huruf yang berasal dari serapan bahasa asing, yaitu:
kh, f, dz, gh, z
7. Tanda Baca (Pratandha)
Dalam penulisan kalimat dalam Aksara Jawa dibutuhkan pula pembubuhan
tanda baca, yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Pokoke mumet dot com
:D
Selain huruf, Aksara Jawa juga punya bilangan (Aksara Wilangan)
Baca Tutorialnya Di: http://dududth.blogspot.com/2012/08/belajar-aksara-jawa-yang-terlupakan.html
Postingan Dari Dududth.blogspot.com Silahkan Kunjungi blog saya
Baca Tutorialnya Di: http://dududth.blogspot.com/2012/08/belajar-aksara-jawa-yang-terlupakan.html
Postingan Dari Dududth.blogspot.com Silahkan Kunjungi blog saya
Geguritan
Geguritan berasal dari bahasa Jawa Tengah, yaitu gurit dan berarti tatahan atau
coretan, serta merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan
penutur bahasa Jawa dan Bali. Geguritan berkembang dari tembang,
sehingga dikenal beberapa bentuk geguritan yang berbeda.
Dalam bentuk yang awal, geguritan berwujud nyanyian yang memiliki sanjak tertentu. Di Bali berkembang bentuk geguritan semacam ini. Pengertian geguritan di Jawa telah berkembang menjadi sinonim dengan puisi bebas, yaitu puisi yang tidak mengikatkan diri pada aturan metrum, sajak, serta lagu. Geguritan merupakan salah satu penciri sastra Jawa Modern yang sangat berkembang, diajarkan di sekolah-sekolah dan kerap dilombakan.
Dalam bentuk yang awal, geguritan berwujud nyanyian yang memiliki sanjak tertentu. Di Bali berkembang bentuk geguritan semacam ini. Pengertian geguritan di Jawa telah berkembang menjadi sinonim dengan puisi bebas, yaitu puisi yang tidak mengikatkan diri pada aturan metrum, sajak, serta lagu. Geguritan merupakan salah satu penciri sastra Jawa Modern yang sangat berkembang, diajarkan di sekolah-sekolah dan kerap dilombakan.
Jumat, 27 September 2013
Sesorah
Sesorah utawa pidhato utawa tanggap wacana yakuwi njlentrehaké
idhe utawa pokok pikiran kanthi wujud tembung- tembung kang diucapaké
marang wong akéh. Tujuan lan isi tanggap wacana utawa pidhato iku
Langganan:
Komentar (Atom)